Ber-intuisi itu Indah

Pengaruh Sejarah Bagi Perkembangan Nasionalisme santri
(Telaah Film Pembantaian G30 SPKI)
Nusantara tempat tumbuhnya berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan, yang terdiri dari suku dan ras, dalam pemikirannya para tokoh terdahulu sehingga sudah ada nasionalisme kenegaraan  dalam memperjuangkan NKRI, ini sangatlah penting, mulai dari di proklamirkan kemerdekaan Indonesia tahun 1345 M, banyak para kyai yang ikut andil dalam peristiwa tersebut. Seperti halnya KH. Hasyim As’ari pendiri Nahdhotul Ulama’ beliaulah salah satu dari sekian kyai yang berpengaruh dalam kemerdekaan Negara ini. Banyak dari berbagai kalangan kaum sarungan. Oleh karena itu ada istilah dari Soekarno  yakni “JASMERAH” ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah’ ini ungkapan yang sangat simple tapi mempunyai yang mendalam, sehingga manusia diberi anuggrah oleh allah salah satunya adalah akal, akal merupakan alat untuk berfikir yang mana ini sebagai pembeda antara manusia dengan hewan.
Semangat yang pasti dalam system pembangunan Negara ini yang terpenting harus menumbuhkan rasa perjuangan mempertahankan NKRI dalam ranah pesantren, ada kaum sarungan yang kehidupan sehari-harinya masih mentradisikan tradisi ulama terdahulu, itulah SANTRI, sebutan yang simple bagi seorang yang masih menempuh  belajar dikalangan kampong damai dan kehidupan kesederhanaan, dari  sinilah mereka berproses, dalam membentuk karakter untuk  mempertahankan NKRI dan memperjuangkannya.  Ironisnya hari ini dan kemarin identitas pesantren dan santri masih ternodai ternodai dengan namannya terorisme.
Santri merupakan kaum sarungan yang menganut system monarki yang mana masih sangat ta’dhim kepada pak kyai. Ta’dhim disini menjadi point penting dan peran tersendiri bagi santri untuk sarana mereka untuk menuntut ilmu dengan anggapan bermanfaat, sebab mengapa? Dalam sifat keta’dhiman oleh paran santri kepada kyai, disinilah sebagai bentuk ketaatan antara guru dan seorang murid, sebenarnya kita sadari atau tidak pegemblengan nasionalisme dimulai dari tahap inilah penanaman sifat tawadlu dan sami’na atho’na kepada seorang pemimpin.
Peran seorang kyai sangatlah berpengaruh bagi peradapan kaum sarungan sehingga keberhasilan terbentuknya kaum nasionalis ada di tangan kyai. Percaya atau tidak, hal ini bisa di lihat dari rutinitas sehari- hari para santri. Realistic empiric yang bisa kita lihat, tidak hanya sebagai tolak ukur, kemanusiawian seseorang untuk menilai karaktek suatu bangsa.
Kemandirian, ketaatan, dan kesolidaritasnya seorang umat ditentukan dalam keberhasilan belajar dan bimbingan para masyayikh dan para guru. Sebab  pendidikan berkarakter madani atau nasionalisme, timbul dari pembiasaan sehingga ada ungkapan yang muncul “BISA Karena TERBIASA” ungkapan ini sederhana tapi banyak yang mengabaikannya sehingga pembiasaan ta’dhim dan berakhkul karimah menjadi sangat kurang, sepintar apapun seseorang jika tidak mempunyai akhlak , maka akan sirnalah semua apa yang didapatkannya, memang benar ilmu tak beharga jika tidak disertai dengan akhlak yang baik. Sehingga sebuah hal yang wajib di ajarkan kepada seorang guru, sebab landasan awal terbentukan karakter yang baik yakni berawal dari akhlaknya yang baik bukan dari kepintarannya. Oleha karena itu sungguh ironis jika penanaman akhlak dan akidah yang sesuai dengan syariat tidak dimulai sejak dini.
Istilah akidah di ambil dari bahasa arab ‘aqidah yang bermakna keyakinan. Inilah unsur yang sangat mendasar untuk memahami agama islam, dalam padangan al qur’an akidah  diartikan sebagai iman (percaya). Kedudukan akidah sebagai sesuatu yang esensial yang harus mendapatkan dukungan oleh dua unsure yakni syariat dan akhlak. Ketiga hal inilah yang dijadikan pondasi awal dalam membentuk seseorang yang berkarakter akhlaqul karimah.
Adapun Akidah berhubungan dengan hati, syariat berhubungan dengan ritual dan tatanan kehidupan manusia dan akhlak adalah aspek yang berkaitan dengan persoalan  etika, moral dan pergaulan hidup seseorang, dari ketiganya tidak bisa dipisahkan dan saling berkaitan satu dengan lainya. Sehingga dari triologi elemen diatas jika bisa tersampaikan berhasilah pendidikan kita. Tapi tak jarang orang mengambaikan hal yang sangat mendasar ini. Dampak nya banyak karakter yang saling menyalahkan bangsanya sendiri, seperti ungkapan Soekarno “ perjuanganku akan lebih mudah  karena mengusir penjajang sedangkan perjuanganmu akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri”  ungkapan ini sebenarnya mempunyai nilai filosofis yang sangat mendalam, melihat kejadian di Negara ini sudah amburadul dalam istilah jawa, sehingga sudah muncul benih-benih pemberontak Negara, lebih-lebih ketika dibenturkan dalam kasus keagamaan, problem keagamaan menjadi nomer satu di Negara ini. Walaupun Negara ini Negara Republik atau bisa disebut Negara Darussalam, semua hidup damai dan sejahtera maunya seperti itu. Adapun firman Allah SWT
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ [آل عمران : 110]
“Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan untuk manusia, kalian menyuruh (perintah) kepada kebajikan dan menjauhkan (mencegah) kepada kemungkaran”
Sehingga ketika akidah yang baik tidak tersampaikan, dan inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi tuan rumah itu sendiri, bukan orang asing yang mengrongrongkan moral manusia, dengan berbagai aspek media, seperti halnya Android siapa dan dimana, di zaman yang serba canggih ini tidak mengenal yang namanya android kecanggihan medsos, yang terbungkus dalam hp android 80 % manusia pada zaman sekarang disibukkan dengan gadget itu, yang isinya sudah tak terduga dan luar biasa canggihnya. Sehingga kita lupa, kita hanya bisa mengoperasikan dan melupakan bagaimana cara membuatnya, disadari atau tidak itulah keadaan di zaman yang mendekati akhir zaman ini.
Tembok besar di china akan roboh hanya dengan kebrobokan akhlak suatu kaum, disinilah peran kyai dan santri diperankan, melihat, dan mengalami kondisi pada zaman sekarang, penanaman akhlak nasionalisme itu yang paling bisa terkondisikan yakni dalam pesantren. Peran kyai sebagai penggembleng moral santri yang berakidah salafi yang bersemboyan ‘al muhafadhotu ala qodimis sholih wa ahdu bil jadidil aslah’  inilah yag seolah-olah menjadi kiblat seorang santri untuk menata kehidupannya dalam perjalanannya menuntut ilmu, karena kepintaran yang tidak didasari dengan akhlak tidak akan sempurna.

Peran nasiolisme mulai tumbuh dan tidak rapuh jika seorang mau mengamalkan, bagaimana caraya? Yakni dengan pembiasaan, dan pendoktrinan yang sesuai dengan akidah Salafuna sholih, tokohnya siapa? Yakni kyai dab ustdz yang mengemban amanat sebagai para santri untuk belajar ilmu agama yang baik. Tentang ketahudian, seperti contoh ada ungkapan ‘Hubbul Wathon minal iman’ dengan maksud cinta tanah air yakni bentuk dari keimanan itu sendiri. Sehingga otomatis rasa patriotism dan ke-nasionalisme santri akan terpatri di sanubari, tidak mudah goyah oleh pengaruh asing.  Dengan syarat kyai sebagai motivator paling utama bagi santri salafi, tidak hanya belajar kitab kuning yang berisi tentang hukum-hukum kehidupan, santri harus juga dan wajib tahu bagaimana lingkaran ke-politikan sebuah Negara, dengan tujuan agar bisa ikut serta menmbangun Negara ini. Negara ini memang bukan Negara islam, tapi penduduknya mayoritas islam, jangan sampai tercetak generasi yang akan mecetak Negara islam, sekali lagi penekanya, Negara kita adalah Negara republic, semua suku, rasa, agama dan kebudayaan semua hidup damai disini. Oleh karena itu ayolah kita berbondong-bondong berjuang untuk NKRI, dari segi apapun kita berjuang, segi agama, politik ataupun yang lain tujuan kita sama. Menghidupkan nasionalisme dalam diri ini lebih sulit daripada mengkritik ke-nasionalismenya orang lain. Kita punya pemimpin dan harus tunduk apa yang diperintah selama itu baik untuk diamalkan. Semoga santri nusantara bisa tetap mempertahankan tradisi yang sudah ada yakni akidah kaum sarungan. 

Komentar

Postingan Populer