Menjadi Subjek atau Objek

Era globlalisasi merupakan era dimana orang akan sedikit melupakan jati dirinya, kenapa ia di ciptakan, dan kenapa dia dilahirkan, sehingga mereka lupa dengan keadaan lingkungannya sendiri.

            Katakanlah sebuah berproses, di era zaman yang serba modern ini,  berjuang melawan ego sendiri sehingga melupakan nikmat yang diberikan kepada sang ilahi, entah mengapa ? kita ini layak menjadi objek atau subjek ataukah sebaliknya menjadi subjek dan menjadi budak objek.

            Sebuah perjalanan roda kehidupan, kadang dibawah kadang diatas sehingga keterpaksaan untuk mengakui segala hal kita lakukan harus dilatih sejak dini, katakanlah kamu sekarang seorang pejabat, mempunyai title diberbagai segala kamu sekarang sebagai penguasa, belum tentu untuk hari berikutnya kamu seorang yang dipimpin.

            Kekuasaan hanyalah sementara yang mana, kekuasaan hanya milik orang-orang yang merasa berkuasa saja, tapi mengapa kekuasaan menghalalkan segala cara untuk mendapatkanya sehingga melupakan tenggang rasa terhadap sesama. Apa arti kehidupan jika semua menjadi objek, dan apa salahnya semua menjadi objek, taka da masalah, yang bermasalah untuk hari ini adalah pola piker kita masing-masing.

            Jagalah ego kita demi sesama, keterpurukan bermula dengan ketidak konsistennya dalam menjaga dan menerapkan yang perlu diterapkan. Memang… pola piker seseorang berbeda-beda tapi disitulah letak dari kebebasan berfikir, jangan sampai kita dikendalikan oleh hal-hal yang tidak penting, jangan mentuhankan sesuatu sehingga kita lupa dengan hakikat dari kehidupan kita, dan esensi kita untuk berfikir memikirkan yang lebih penting daripada yang tidak penting.

            Percayalah proses itu nyata, jangan menunggu waktu yang tepat untuk merubah dan memulai suatu yang kamu inginkan teruslah berproses, jangan sampai kamu mengecewakan hasil karena prosesmu tidak sukses.


Ngunggahan, 9 Agustus 2020

add_arifin


Komentar

Postingan Populer