The Power Of Change
Sebuah kisah
yang di angkat dari sebuah kerisauan seorang santri yang tekun hidup jauh dari
keramain dunia, dari kecil sudah dilatih untuk mandiri, di tempat yang indah,
damai, dan menjadi kampung agama yang bermasyarakat, yang melekat dengan tekat yang kuat sehingga menjadi
bermartabat.
Kesehariannya
berbusana khasnya, bersarung baju muslim dan songkok hitam, setiap hari di
ulang-ulang seperti halnya menganyuh
sepeda demi menempuh apa yang menjadi tujuan, sebutlah gubuk itu adalah
Pesantren, pesantren merupakan miniature kehidupan yang di masyarakat.
Hakekat dari
pesantren, ada santri, kyai, kitab kuning, asrama dan masjid, dari kesatuan itu
tidak bisa di pisahkan. Kesederhanaan, kepatuhan, akhlak, semua diajarkan
dilatih di dalam pesantren. Terlebih pesantren yang ada title salafi.
Itulah
pesantren, kegundahan seorang santri terhadap teman-teman yang belum tentu mau
diajak untuk belajar dipesantren, kenapa
sangatlah sulit mengajaknya ?, entah mengapa bagi mereka kata “pesantren’
menjadi hal yang menakutkan, padahal keadaan disana belum tentu seperti yang di
bayangkan.
Ist oke,,,,
tak apalah kecanggihan teknologi sekarang membuat segalanya menjadi lebih dari
segala-segalanya, kalau misal mencari apapun di mbah GOOGLE semuanya ada,
seakan-akan itu mewakili proses belajar yang ada.
Hey broo…
ingatlah secanggih apapun si mbah GOOGLE tidak punya sanad keilmuan yang
munfasil, apa itu munfasil ? makannya mondok yaa biar tahu hhhe…
Peci dan
sarung yang sudah kusam mewakili berbagai macam pengorbanan dan perjuangan
mencari ilmu sesungguhnya. Semoga kebarokahan tetap manjadi hal yang istimewa
untuk menjalani prosesnya yang ada.
Jadilah diri
sendiri tanpa membebani dan menyakiti orang lain, awal perjuangan seseorang
berbeda-beda, janganlah saling mencerca teruslah berkarya tanpa kata-kata yang
hina.
Ngunggahan, 14
Agustus 2020
add_arifin



Komentar